Senin, 09 April 2012

SILOGISME DAN PENALARAN

Silogisme

Merupakan penarikan konsklusi secara deduktif tidak langsung yang konsklusinya ditarik dari premis yang disediakan sekaligus. Silogisme juga dapat dikatakan sebagai suatu argumen yang bersifat deduktif yang mengandung tiga proporsi kategori yakni dua premis dan satu kesimpulan.


Silogisme dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu silogisme murni dan silogisme campuran. Sebuah silogisme terdiri atas tiga proposisi yaitu dua proposisi yang disajikan dan sebuah proposisi yang ditariknya.


Bentuk silogisme dibagi menjadi 4 macam bentuk, yaitu silogisme bentuk 1, silogsme dalam bentuk 2, silogisme dalam bentuk 3, dan silogisme dalam bentuk 4.



Penalaran

Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian.

Penalaran dibagi menjadi 2 jenis, yaitu penalaran induktif dan penalaran deduktif.

>> Penalaran induktif merupakan proses penalaran untuk manarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku khusus berdasarkan atas fakta-fakta yang bersifat umum.

>> Penalaran deduktif juga merupakan proses penalaran untuk menarik kesimpulan dari hal-hal atau fakta-fakta yang bersifat umum ke hal-hal yang bersifat khusus.

Kamis, 29 Desember 2011

TUGAS PERILAKU KONSUMEN (BAB 7)

SIKAP, MOTIVASI DAN KONSEP DIRI
PRATIWI WULANDARI
14209053
3 EA 11



PENDAHULUAN

Seperti kita ketahui secara umum, bahwa sikap dapat dibagi menjadi dua sifat yaitu sifat negatif dan sifat positif. Sifat negatif menimbulkan kecenderungan untuk menjauh, memberi ataupun tidak menyukai keberadaan suatu objek. Sedangkan sifat positif menimbulkan kecenderungan untuk menyenangi, mendekat, menerima atau bahkan mengharapkan kehadiran objek tertentu.

Melalui tindakan dan proses pembelajaran, orang akan mendapatkan kepercayaan dan sikap yang kemudian akan mempengaruhi perilaku pembeli. Kepercayaan adalah suatu pemikiran deskriptif yang dimiliki seseorang tentang sesuatu. Suatu sikap menjelaskan suatu organisasi dari motivasi, perasaan emosional, persepsi dan proses kognitif kepada suatu aspek.


PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN SIKAP, MOTIVASI DAN KONSEP DIRI

1. Pengertian Sikap
Secara bahasa, Oxford Advanced Learner Dictionary (Hornby, 1974) mencantumkan bahwa sikap (attitude), berasal dari bahasa Italia attitudine yaitu “Manner of placing or holding the body, and Way of feeling, thinking or behaving”. Sikap adalah cara menempatkan atau membawa diri, atau cara merasakan, jalan pikiran, dan perilaku. Selain itu, sikap atau attitude adalah suatu konsep paling penting dalam psikologi sosial.

Menurut Engel, Blackwell dan Miniard (1992), sikap sebagai suatu evaluasi menyeluruh yang menunjukkan orang berespon dengan cara menguntungkan atau tidak menguntungkan secara konsisten berkenaan dengan obyek atau alternatif yang diberikan.

Sikap dalam kamus Marketing (1995) juga didefinisikan sebagai kondisi mental atau akal budi tertentu yang mencerminkan suatu pandangan pribadi yang negatif atau positif mengenai suatu obyek/konsep; atau suatu keadaan acuh tak acuh yang menunjukkan titik tengah (mid point) diantara dua titik ataupun dua pokok yang saling berlawanan.
Dari berbagai pengertian tentang sikap yang telah dijelaskan di atas, maka secara eksplisit dapat dikatakan bahwa membicarakan sikap adalah membahas hal-hal yang bersifat multidimensional.

Sikap seseorang secara menyeluruh terhadap suatu obyek nampak sebagai fungsi dari:
a. Kekuatan masing-masing dari sejumlah kepercayaan yang dipegang seseorang mengenai berbagai aspek dari obyek.
b. Evaluasi yang diberikan pada setiap kepercayaan dalam hubungannya dengan obyek; dalam kaitan ini kepercayaan adalah kemungkinan yang diambil seseorang pada suatu pengetahuan yang dianggap benar.

2. Pengertian Motivasi
Motivasi dapat diartikan sebagai pemberi daya penggerak yang menciptakan kegairahan seseorang agar mereka mau bekerjasama,bekerja efektif dan terintegrasi dengan segala upayanya untuk mencapai kepuasan.

Motivasi konsumen adalah keadaan di dalam pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan guna mencapai suatu tujuan. Dengan adanya motivasi pada diri seseorang akan menunjukkan suatu perilaku yang diarahkan pada suatu tujuan untuk mencapai sasaran kepuasan.

Menurut Wlodkowski (1985) menjelaskan, motivasi sebagai suatu kondisi yang menyebabkan atau menimbulkan perilaku tertentu, dan yang memberi arah dan ketahanan (persistence) pada tingkah laku tersebut. Pengertian ini jelas bernafaskan behaviorisme (teori belajar dan percaya bahwa semua perilaku yang diperoleh sebagai hasil dari pengkondisian).

3. Pengertian Konsep Diri
Menurut Stuart dan Sudeen (1998), konsep diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan dan pendirian yang diketahui individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu dalam berhubungan dengan orang lain. Hal ini temasuk persepsi individu akan sifat dan kemampuannya, interaksi dengan orang lain dan lingkungan, nilai-nilai yang berkaitan dengan pengalaman dan objek, tujuan serta keinginannya.


B. KOMPONEN SIKAP

Ada tiga komponen sikap menurut Allport (dalam Mar’at, 1982) adalah sebagai berikut:

1. Komponen Kognitif (Pengetahuan)
Hal ini berhubungan dengan kepercayaan (beliefs), ide, dan konsep, misalnya pengetahuan tentang sesuatu atau obyek, keyakinan tentang obyek ataupun keyakinan evaluatif.

2. Komponen Afektif (Emosional)
Hal ini menyangkut kehidupan emosional seseorang seperti perasaan senang atau tidak senang terhadap suatu situasi, obyek, orang ataupun konsep.

3. Komponen Konotif (Tendensi perilaku)
Hal ini merupakan kecenderungan bertingkah laku atau kehendak untuk bertingkah laku terhadap suatu obyek.


C. SIFAT-SIFAT SIKAP

1. Consumer Behavior Is Dynamic
Perilaku konsumen dikatakan dinamis karena proses berpikir, merasakan, dan aksi dari setiap individu konsumen, kelompok konsumen, dan perhimpunan besar konsumen selalu berubah secara konstan.

Sifat yang dinamis demikian menyebabkan pengembangan strategi pemasaran menjadi sangat menantang sekaligus sulit. Suatu strategi dapat berhasil pada suatu saat dan tempat tertentu tapi gagal pada saat dan tempat lain. Karena itu suatu perusahaan harus senantiasa melakukan inovasi-inovasi secara berkala untuk meraih konsumennya.

2. Consumer Behavior Involves Interactions
Dalam perilaku konsumen terdapat interaksi antara pemikiran, perasaan, dan tindakan manusia, serta lingkungan. Semakin dalam suatu perusahaan memahami bagaimana interaksi tersebut mempengaruhi konsumen semakin baik perusahaan tersebut dalam memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen serta memberikan value atau nilai bagi konsumen.

3. Consumer Behavior Involves Exchange
Perilaku konsumen melibatkan pertukaran antara manusia. Dalam kata lain seseorang memberikan sesuatu untuk orang lain dan menerima sesuatu sebagai gantinya.
Motivasi konsumen mewakili dorongan untuk memuaskan kebutuhan baik yang bersifat fisiologis maupun psikologis melalui pembelian dan penggunaan suatu produk.


D. PENGGUNAAN MULTI ATRIBUT ATTITUDE MODEL UNTUK MEMAHAMI SIKAP KONSUMEN

Berikut penggunaan multi atribut attidude ada tiga yaitu :
1. Theattribute-toward-objectmodel
Digunakan khususnya menilai sikap konsumen terhadap satu kategori produk atau merk spesifik. Hal ini untuk menilai fungsi kehadiran dan evaluasi terhadap sesuatu. Pembentukan sikap konsumen yang dimunculkan karena telah merasakan sebuah objek. Hal ini dapat mempengaruhi pembentukan sikap selanjutnya.

2. Theattitude-toward-behaviormodel
Digunakan untuk menilai tanggapan konsumen melalui tingkah laku daripada sikap terhadap objek. Pembentukan sikap konsumen akan ditunjukan berupa tingkah laku konsumen yang berupa pembelian ditempat itu.

3. Theoryof-reasoned-actionmodel
Berdasarkan teori ini pengukuran sikap yang tepat seharusnya didasarkan pada tindakan pembelian atau penggunaan merk produk bukan pada merek itu sendiri tindakan pembelian dan mengkonsumsi produk pada akhirnya akan menentukan tingkat kepuasan.


E. DINAMIKA PROSES MOTIVASI

1. Tujuan
Perusahaan harus bisa menentukan terlebih dahulu tujuan yang ingin dicapai, baru kemudian konsumen dimotivasi ke arah itu.

2. Mengetahui Kepentingan
Perusahaan harus bisa mengetahui keinginan konsumen tidak hanya dilihat dari kepentingan perusahaan semata

3. Komunikasi Efektif
Melakukan komunikasi dengan baik terhadap konsumen agar konsumen dapat mengetahui apa yang harus mereka lakukan dan apa yang bisa mereka dapatkan.

4. Integrasi Tujuan
Proses motivasi perlu untuk menyatukan tujuan perusahaan dan tujuan kepentingan konsumen. Tujuan perusahaan adalah untuk mencari laba serta perluasan pasar. Tujuan individu konasumen adalah pemenuhan kebutuhan dan kepuasan.kedua kepentingan di atas harus disatukan dan untuk itu penting adanya penyesuaian motivasi.

5. Fasilitas
Perusahaan memberikan fasilitas agar konsumen mudah mendapatkan barang dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan.


F. KEGUNAAN DAN STABILITAS POLA MOTIVASI

Pola motivasi didefinisikan sebagai sikap yang mempengaruhi cara-cara orang memandang pekerjaan dan menjalani kehidupan mereka (Keith dan Newstrom, 1990 : 6).
Menurut Keith dan Newstrom (Keith dan Newstrom, 1990 : 6) empat macam pola motivasi yang sangat penting :

1. Motivasi Prestasi (Achievement Motivation)
Adalah mendorong dalam diri orang-orang untuk mengatasi segala tantangan dan hambatan dalam upaya mencapai tujuan.

2. Motivasi Afiliasi (Affiliation Motivation)
Adalah dorongan untuk berhubungan dengan orang-orang atas dasar sosial.


3. Motivasi Kompetensi (Competence Motivation)
Adalah dorongan untuk mencapai keunggulan kerja, meningkatkan ketrampilan, mencemgah maslah dan berusaha keras untuk inovatif

4. Motivasi Kekuasaan (Power Motivation)
Adalah dorongan untuk mempengaruhi orang-orang dan mengubah situasi. Pengetahuan tentang pola motivasi membantu para manajer memahami sikap kerja masing-masing karyawan, mereka dapat mengelola perushaan secara berkala sesuaid engan pola motivasi yang paling menonjol.


G. MEMAHAMI KEBUTUHAN KONSUMEN

Kebutuhan konsumen dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

1. Fisiologis
Dasar-dasar kelangsungan hidup, termasuk rasa lapar, haus dan kebutuhan hidup lainnya.

2. Keamanan
Berkenaan dengan kelangsungan hidup fisik dan keamanan.

3. Afiliasi dan Pemilikan
Kebutuhan untuk diterima oleh orang lain, menjadi orang penting bagi mereka.

4. Prestasi
Keinginan dasar akan keberhasilan dalam memenuhi tujuan pribadi

5. Kekuasaan
Keinginan untuk emndapat kendali atas nasib sendiri dan juga nasib orang lain.

6. Ekspresi Diri
Kebutuhan mengembangkan kebebasan dalam ekspresi diri dipandang penting oleh orang lain.

7. Urutan dan Pengertian
Keinginan untuk mencapai aktualisasi diri melalui pengetahuan, pengertian, sistematisasi dan pembangunan system lain.

8. Pencarian Variasi
Pemeliharaan tingkat kegairahan fisiologis dan stimulasi yang dipilih kerap diekspresikan sebagai pencarian variasi.

9. Atribusi Sebab-akibat
Estimasi atau atribusi sebab-akibat dari kejadian dan tindakan.


H. STUDI KASUS

Pada musim semi tahun 1985, Coca-Cola Company mengguncang konsumen Amerika & produsen minuman ringan lainnya dengan mengumumkan bahwa resep Coke yang telah berusia 99 tahun akan diubah.
Coke yang “baru” akan terasa lebih manis & riset pemasaran menunjukkan bahwa rasanya cenderung lebih disukai ketimbang Pepsi Cola. Resep asli Coke akan dipensiunkan disimpan dilemari besi bank & tidak akan diproduksi lebih lanjut. Apa yang terjadi selanjutnya adalah awal dari suatu pelajaran tentang keterlibatan konsumen bagi Coke.

Konsumen Amerika yang merasa marah mengkritik pedas perusahaan yang berbasis di Atlanta tersebut sehubungan dengan hilangnya “tradisi besar Amerika”.

Di Seattle, sebuah grup loyalis vokal yang menyebut dirinya “orang Amerika peminum Coke lama” menyatakan akan mengajukan tuntutan terhadap Coca-Cola. Mereka mengumpulkan pemilik toko, pemilik mesin penjual, & orang-orang yang ingin menyatakan bahwa perubahan resep telah merugikan usaha mereka. Kemudian, ketika penjualan Juni tidak mencapai target seperti yang diharapkan, para pengusaha botol juga menggabungkan diri & menuntut agar dikembalikannya Coke lama dengan segera.

Walaupun Coca-Cola telah mengeluarkan anggaran sebesar US$84juta untuk menguji resep baru, ternyata manajemen telah melupakan satu faktor penting. Jutaan konsumen memiliki keterlibatan emosional yang kuat dengan Coke asli. Mereka meminumnya ketika masih kecil & terus melakukannya hingga dewasa.

Beberapa konsumen memiliki ikatan pribadi yang khusus dengan Coke. Ujar seorang perwakilan Coke, “kami telah mengambil sebagian kecil dari diri & masa lalu mereka”. Mereka (konsumen) mengatakan, anda tidak punya hak untuk melakukannya. Kembalikan semua ke awal. Coca-Cola mendapat pelajaran yang sangat mahal.
Walaupun konsumen memilih Coke rasa baru pada saat uji rasa dengan mata tertutup Coca-Cola tidak menghitung reaksi emosi konsumen ketika melihat Coke asli dibersihkan dari etalase toko.



PENUTUP

A. KESIMPULAN
Konsumen memiliki keterlibatan emosional yang kuat dengan Coke asli. Motivasi mereka mempertahankan coke yang lama karena mereka terbiasa meminumnya sejak kecil hingga dewasa.

B. SARAN
Coca-Cola harus lebih peka bahwa suatu produk lebih dari sekedar formula produksi, arti tambah seperti emosi & hubungan yang kuat pada citra pribadi juga harus diperhitungkan.


DAFTAR PUSTAKA

http://avroosa.blogspot.com/2010_01_01_archive.html
http://www.informasiku.com/2011/04/perilaku-konsumen-definisi-dan-tipe.html
http://delviadelvi.wordpress.com/2011/01/20/sikap-motivasi-dan-konsep-diri-terhadap-perilaku-konsumen/
http://harisahmad.blogspot.com/2010/05/pengertian-motivasi.html
http://harenzone.blogspot.com/2010/11/perilaku-konsumen-pola-dari-kepribadian.html
dan dari berbagai sumber lainnya.

Jumat, 11 November 2011

TUGAS PERILAKU KONSUMEN PERTEMUAN KEDUA BAB IV - VI (SOFTSKILL)

NAMA : PRATIWI WULANDARI
NPM : 14209053
KELAS : 3 EA 11

PENDAHULUAN

Sumber daya ekonomi dapat diartikan sebagai sesuatu atau segala sesuatu sumberdaya yang dimiliki baik yang tergolong pada sumberdaya alam maupun potensi sumberdaya manusia yang dapat memberikan manfaat serta dapat digunakan sebagai modal dasar pembangunan ekonomi.

Setiap perusahaan dalam menjalankan usahanya pasti bertujuan untuk mendapatkan laba sesuai dengan tujuan pokok yang diharapkan. Diantaranya agar perusahaan dapat menjaga kelangsungan hidup serta kelancaran operasinya.

Secara teori konsumen melalui seluruh lima tahap pada tiap pembelian. Tapi pada pembelian rutin, konsumen terkadang melewatkan atau membalik beberapa tahap itu. Dalam proses pengambilan keputusan, konsumen harus melakukan pemecahan masalah dalam kebutuhan yang dirasakan dan keinginannya untuk memenuhi kebutuhan dengan konsumsi produk atau jasa yang sesuai. Di tingkat ini konsumen memerlukan informasi yang relative lengkap untuk membentuk criteria evaluasi dari kriteria yang baku .

Bila seseorang dihadapkan pada dua pilihan, yaitu membeli dan tidak membeli tapi memilih membeli, maka dia ada dalam posisi membuat keputusan. Semua orang dapat mengambil keputusan setiap hari dalam hidupnya tanpa disadari.

PEMBAHASAN

Selama tahap evaluasi berlangsung, konsumen akan belajar dari pengalaman dan pola pengumpulan informasi mungkin berubah, evaluasi merek, dan pemilihan merek. Konsumen akan mempunyai pilihan yang tepat dan membuat pilihan alternatif secara teliti terhadap produk yang akan dibelinya.

Kriteria evaluatif seperti harga, ukuran, dan warna dinilai mudah dan akurat oleh konsumen. Ketika konsumen hakim merek alternatif pada kriteria evaluatif , mereka harus memiliki beberapa metode untuk memilih satu merek dari berbagai pilihan.
Konsumen sering membuat keputusan berdasarkan pengaruh atau pada sikap secara keseluruhan terhadap merek atau untuk meminimalkan usaha atau emosi negatif.
Kriteria evaluatif biasanya berdasarkan fitur produk atau atribut yang terkait dengan manfaat yang diinginkan oleh pelanggan atau biaya yang harus mereka keluarkan. Jenis kriteria evaluatif digunakan dalam pengambilan keputusan bervariasi dari segi biaya nyata dan kinerja untuk faktor intangible seperti gaya, rasa, prestise, perasaan yang dihasilkan, dan citra merek.

Hal yang harus ditentukan dalam menentukan alternatif pilihan :
• Kriteria evaluatif yang digunakan oleh konsumen.
• Bagaimana konsumen mempersepsikan berbagai alternatif pada setiap kriteria.
• Pentingnya relatif dari masing-masing kriteria.

Pendekatan pengukuran yang paling populer adalah pendekatan tidak langsung menggabungkan analisis dalam analisis menggabungkan, konsumen disajikan dengan satu set produk atau deskripsi produk dengan kriteria evaluatif bervariasi.

Berikut adalah proses pengambilan keputusan sebelum pembelian :
1. Menganalisa Keinginan dan Kebutuhan
Penganalisaan keinginan dan kebutuhan ini ditujukan terutama untuk mengetahui adanya keinginan dan kebutuhan yang belum terpenuhi atau terpuaskan.

2. Menilai Sumber-sumber
Tahap kedua dalam proses pembelian ini sangat berkaitan dengan lamanya waktu dan jumlah uang yang tersedia untuk membeli.

3. Menetapkan Tujuan Pembelian
Tahap ketika konsumen memutuskan untuk tujuan apa pembelian dilakukan, yang bergantung pada jenis produk dan kebutuhannya.

4. Mengidentifikasikan Alternatif Pembelian
Tahap ketika konsumen mulai mengidentifikasikan berbagai alternatif pembelian.

5. Keputusan Membeli
Tahap ketika konsumen mengambil keputusan apakah membeli atau tidak. Jika dianggap bahwa keputusan yang diambil adalah membeli, maka pembeli akan menjumpai serangkaian keputusan menyangkut jenis produk, bentuk produk, merk, penjual, kuantitas, waktu pembelian dan cara pembayarannya.

Menurut Kotler (1997) ada beberapa tahap dalam mengambil suatu keputusan untuk melakukan pembelian, anatara lain:
1. Pengenalan Masalah
Merupakan faktor terpenting dalam melakukan proses pembelian, dimana pembeli akan mengenali suatu masalah atau kebutuhan.

2. Pencarian informasi.
Seorang selalu mempunyai minat atau dorongan untuk mencari informasi. Apabila dorongan tersebut kuat dan obyek yang dapat memuaskan kebutuhan itu tersedia maka konsumen akan bersedia untuk membelinya.

3. Evaluasi Alternatif
Konsumen akan mempunyai pilihan yang tepat dan membuat pilihan alternatif secara teliti terhadap produk yang akan dibelinya.

4. Keputusan Pembeli
Setelah konsumen mempunyai evaluasi alternatif maka konsumen akan membuat keputusan untuk membeli. Penilaian keputusan menyebabkan konsumen membentuk pilihan merek di antara beberapa merek yang tersedia.

Untuk memahami keputusan yang komplek maka perlu dipahami hakekat keterlibatan konsumen dengan suatu produk. Kondisi keterlibatan konsumen akan suatu produk, apabila produk tersebut adalah :
• Penting bagi konsumen karena image konsumen sendiri.
• Memberikan daya tarik yang terus menerus kepada konsumen.
• Mengandung resiko tertentu.
• Mempunyai ketertarikan emosional.
• Dikenal dalam kelompok grupnya atau “ badge “ value dari barang yang bersangkutan.




Tipe Keterlibatan :
1. Situational involvement. Terjadi hanya dalam situasi khusus dan sementara dan umumnya bila pembelian itu dibutuhkan.
2. Enduring involvement, berlangsung terus menerus dan lebih permanen. Umumnya terjadi karena ketertarikan yang berlangsung terus dalam kategori produk, walaupun pembelian itu dibutuhkan atau tidak, misalnya ketertarikan pada baju.




PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Tipologi pengambilan keputusan konsumen :
1. Keluasan pengambilan keputusan (the extent of decision making)
Menggambarkan proses yang berkesinambungan dari pengambilan keputusan menuju kebiasan. Keputusan yang dibuat berdasarkan proses kognitif dari penyelidikan informasi dan evaluasi pilihan merek.

2. Dimensi atau proses yang tidak terputus dari keterlibatan kepentingan pembelian yang tinggi ke yang rendah. Keterlibatan kepentingan pembelian yang tinggi adalah penting bagi konsumen. Pembelian berhubungan secara erat dengan kepentingan dan image konsumen itu sendiri. Beberapa resiko yang dihadapi konsumen adalah resiko keuangan , sosial, psikologi.
Dalam beberapa kasus, untuk mempertimbangkan pilihan produk secara hati-hati diperlukan waktu dan energi khusus dari konsumen. Keterlibatan kepentingan pembelian yang rendah dimana tidak begitu penting bagi konsumen, resiko finansial, sosial, dan psikologi tidak begitu besar. Dalam hal ini mungkin tidak bernilai waktu bagi konsumen, usaha untuk pencarian informasi tentang merek dan untuk mempertimbangkan pilihan yang luas. Dengan demikian, keterlibatan kepentingan pembelian yang rendah umumnya memerlukan proses keputusan yang terbatas.

Sumber Daya Sementara
Waktu menjadi variabel yang semakin penting dalam memahami perilaku konsumen. Karena konsumen mayoritas semakin mengalami kemiskinan akan waktu. Namun demikian ada suatu bagian waktu yang dihabiskan untuk kegiatan yang sangat pribadi yaitu waktu senggang. Dalam sumber daya kognitif produk yang diklasifikasikan menurut sifat waktu konsumen disebut barang waktu.

a. Barang Yang Menggunakan Waktu
Produk yang memerlukan pemakaian waktu dala mengkonsumsinya. Contoh: Menonton TV, Memancing, Golf, Tennis (waktu Senggang) Tidur, perawatan pribadi, pulang pergi (waktu wajib)

b. Barang Penghemat Waktu
Produk yang menghemat waktu memungkinkan konsumen meningkatkan waktu leluasa mereka. Contoh: oven microwave, pemotong rumput, fast food

Sumber Daya Kognitif
Pengertian sumber daya kognitif adalah kemampuan untuk secara lebih tepat merepresentasikan dunia dan melakukan operasi logis dalam representasi konsep yang berdasar pada kenyataan. Teori ini membahas munculnya dan diperolehnya schemata, skema tentang bagaimana seseorang mempersepsi lingkungannya dalam tahapan-tahapan perkembangan, saat seseorang memperoleh cara baru dalam merepresentasikan informasi secara mental. Teori ini digolongkan ke dalam konstruktivisme.
Sumberdaya Kognitif terdiri dari dua dimensi:
• Arahan (direction) menggambarkan fokus perhatian
• Intensitas mengacu pada jumlah kapasitas yang difokuskan pada arahan tertentu. Karena kapasitas tersebut terbatas, orang harus selektif dalam apa yang mereka perhatikan dan berapa banyak perhatian dialokasikan selama pengolahan informasi.

Pengetahuan Konsumen terbagi kedalam tiga macam, yaitu Pengetahuan Produk, Pengetahuan Pembelian, Pengetahuan Pemakaian.
a. Pengetahuan Produk adalah kumpulan berbagai macam informasi mengenai produk. Pengetahuan ini meliputi kategori produk, merek terminologi produk atribut atau fitur, harga produk dan kepercayaan mengenai produk.

Jenis Pengetahuan Produk :
o Pengetahuan tentang karakteristik/atribut produk.
Seorang Konsumen akan melihat suatu produk berdasarkan kepada karakteristik atau ciri atau atribut dari produk tersebut. Setiap konsumen mungkin memiliki kemampuan yang berbeda dalam menyebutkan karakteristik atau atribut dari suatu produk. Hal ini disebabkan perbedaan pengetahuan yang dimilikinya. Pengetahuan mengenai atribut tersebut akan mempengaruhi pengambilan keputusan konsumen. Pengetahuan yang lebih banyak akan memudahkan konsumen dalam memilih produk yang akan dibelinya.
o Pengetahuan Manfaat Produk

b. Pengetahuan Pembelian
Pengetahuan Pembelian terdiri atas pengetahuan tentang toko, lokasi produk di dalam toko dan penempatan produk yang sebenarnya di dalam toko tersebut. Pengetahuan Konsumen cenderung lebih senang mengunjungi toko yang sudah dikenalnya untuk berbelanja, karena telah mengetahui dimana letak produk di dalam toko tersebut. Hal ini akan memudahkan konsumen untuk berbelanja atau melakukan pembelian. Hal ini akan memudahkan konsumen untuk berbelanja karena konsumen bisa menghemat waktu dalam mencari lokasi produk.

Menurut Petter dan Olson (1999), perilaku membeli meliputi store contact, product contact, dan Transaction.
• Store contact meliputi tindakan mencari outlet, pergi ke outlet dan memasuki outlet.
• Product contact, konsumen akan mencari lokasi produk, mengambil produk tsb dan membawanya ke kasir
• Transaction, konsumen akan membayar produk tersebut dengan tunai, kartu kredit, kartu debet atau alat pembayaran lainnya.

c. Pengetahuan Pemakaian
Suatu produk akan memberikan manfaat kepada konsumen jika produk tersebut telah digunakan atau dikonsumsi. Agar produk tersebut bisa memberikan manfaat yang maksimal dan kepuasan yang tinggi, maka konsumen harus bisa menggunakan atau mengkonsumsi produk tersebut dengan benar. Produsen berkewajiban untuk memberikan informasi yang cukup agar konsumen mengetahui cara pemakaian suatu produk. Pengetahuan pemakaian suatu produk adalah penting bagi konsumen.

Berikut adalah contoh studi kasus konsumen dalam mengambil keputusan untuk membeli.

Seorang konsumen ingin membeli sebuah Handphone, setelah konsultasi melalui Internet untuk menentukan fitur apa yang paling disukai, konsumen kemudian pergi ke toko elektronik lokal dan membandingkan berbagai merek fitur yang paling penting baginya yaitu, harga, audio visual, ukuran kamera, aplikasi, dan ukuran penyimpanan. Dia melihat keunggulan masing-masing model atas atribut dan kesan umum nya model kualitas masing-masing. Atas dasar evaluasi ini, ia memilih Sony Erricson.

Ketika konsumen mengingat bahwa temannya yang menggunakan Sonny Erricson bekerja dengan baik, orang tuanya memiliki Nokia yang juga bekerja dengan baik tapi agak besar dan berat, dan merek lain tidak diinginkan serta ia harapkan, sedangkan harganya sama, maka ia putuskan untuk membeli Sonny Erricson.

Jelas bahwa proses pembelian berlangsung jauh sebelum pembelian aktual dan berlanjut jauh sesudahnya. Pasar perlu berfokus pada seluruh proses pengambilan keputusan pembelian bukan hanya pada proses pembeliannya saja.

PENUTUP

Kesimpulan
Proses pengambilan keputusan pembelian terdiri dari lima tahap, yaitu pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, pengevaluasian alternatif, keputusan pembelian, dan perilaku setelah pembelian.
Agar produk tsb bisa memberikan manfaat yang maksimal dan kepuasan yg tinggi, maka konsumen harus bisa menggunakan/ mengkonsumsi produk tersebut dengan benar. Produsen berkewajiban untuk memberikan informasi yang cukup agar konsumen mengetahui cara pemakaian suatu produk. Pengetahuan pemakaian suatu produk adalah penting bagi konsumen.
Situasi komunikasi, situasi pembelian, situasi penggunaan dan situasi penyingkiran produk, semuanya menentukan keputusan beli. Lingkungan fisik, lingkungan sosial, waktu, tujuan pembelian, konsumsi dan suasana hati tidak dapat diabaikan sebagai unsur-unsur yang sangat penting dalam keputusan membeli.


DAFTAR PUSTAKA
http://psikology09b.blogspot.com/2011/05/alternatif-evaluasi-dan-seleksi.html
http://www.smakristencilacap.com/arti-pemasaran-dan-manajemen-pemasaran/proses-pengambilan-keputusan-pembelian-konsumen/
http://id.netlog.com/go/out/url=http%3A%2F%2Fhimamika09.blogspot.com
http://eprints.undip.ac.id/19897/1/Dewi_Repositori.pdf
http://abduljabal18.blogspot.com/2009/12/sumber-daya-konsumen-dan-pengetahuan.html
http://community.gunadarma.ac.id/blog/view/id_29982/title_perilaku-konsumen/
http://www.slideshare.net/imanmulyana/keputusan-pembelian

Selasa, 08 November 2011

TUGAS METODE RISET BAB IV DAN BAB V

BAB IV
PEMBAHASAN


Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara komitmen dengan kinerja karyawan. Para karyawan yang menduduki posisi sebagai asisten kepala dan kepala dinas di kebun serta kepala urusan di kantor pusat dengan level komitmen kerja yang tinggi akan mempunyai komitmen kontinuan yang tinggi, karena banyak pengacara mempersiapkan dirinya untuk menjadi mitra.

Aspek pelengkap untuk alasan ini adalah pada kenyataannya terdapat pula karyawan tidak merasa bekerja di perkebunan sebagai karier utama mereka, tetapi sebagai platform posisi manajerial.

Dalam penelitian ini peran kepuasan kerja dinilai sebagai mediator antara model komitmen dan kinerja karyawan. Ini tidak menyatakan bahwa tidak terdapat pengaruh dari bentuk-bentuk komitmen, tetapi variabel terbaik untuk memprediksi kinerja karyawan adalah kepuasan kerja.

Ketika bentuk komitmen organisasional disarankan sebagai prediktor terbaik bagi kinerja karyawan di luar situasi kerja, kepuasan kerja muncul menjadi prediktor terbaik bagi kinerja karyawan di dalam suasana kerja.

Maka dari pengujian yang telah dilakukan, didapat hasil bahwa komitmen sangat berpengaruh terhadap kinerja karyawan, dan kepuasan kerja sebagai dasar pengukurannya.



BAB V
KESIMPULAN


Dari analisis hasil studi dan pembahasan yang telah dilakukan tentang Pengaruh Komitmen Organisasional dan Kepuasan Kerja terhadap Kinerja Karyawan PTPN III di Sumatera Utara, maka dapat ditarik simpulan sebagai berikut:

1. Komitmen afektif berpengaruh terhadap kepuasan kerja karyawan PTPN III di Sumatera Utara. Hal ini berarti bahwa komitmen afektif yang dimiliki karyawan yaitu perasaan atau pengenalan positip dengan, tambahan kepada, dan keterlibatan dalam, organisasi kerja, mampu meningkatkan kepuasan kerja karyawan PTPN III di Sumatera Utara.

2. Komitmen kontinuan berpengaruh terhadap kepuasan kerja karyawan PTPN III di Sumatera Utara. Hal ini berarti bahwa karyawan memutuskan menetap pada suatu organisasi karena menganggapnya sebagai suatu pemenuhan kebutuhan.

3. Komitmen normatif berpengaruh terhadap kepuasan kerja karyawan PTPN III di Sumatera Utara. Hal ini berarti bahwa karyawan tetap tinggal pada suatu organisasi karena merasa wajib untuk loyal pada organisasi tempat ia bekerja.

4. Kepuasan kerja berpengaruh terhadap kinerja karyawan PTPN III di Sumatera Utara.
Hal ini berarti bahwa kinerja seseorang akan meningkat ketika kepuasan kerja dari individu berada pada posisi yang tinggi.


PUSTAKA
http://puslit2.petra.ac.id/ejournal/index.php/man/article/viewFile/17742/17663


Tugas ini diberikan oleh Pak Prihantoro

Selasa, 01 November 2011

TUGAS METODE RISET

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN


DATA DAN SAMPEL

Dalam penelitian ini populasi terdiri atas karyawan PT. Perkebunan Nusantara yang berada di wilayah Sumatera Utara, yaitu PT. Perkebunan Nusantara III yang menduduki posisi sebagai asisten kepala dan kepala dinas di kebun serta kepala urusan di kantor pusat yang berjumlah 174 orang karyawan.


VARIABEL DAN INDIKATOR

Hair et al. dalam Ferdinand, (2002:48), menyarankan bahwa ukuran sampel tergantung pada jumlah indikator yang digunakan dalam seluruh variabel laten. Disarankan bahwa ukuran sampel minimum adalah 5-10 observasi untuk setiap estimasi parameter. Berdasarkan pendapat di atas maka ukuran sampel minimal dalam penelitian ini adalah: n = 8 x jumlah indikator, di mana n adalah jumlah sampel minimum. Indikator yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 18 indikator, sehingga diperoleh jumlah sampel 144 responden. Selanjutnya, sebagai teknik penarikan sampel dilakukan dengan cara random.

Hasil deskripsi data :





Hipotesis 1
Berdasarkan hasil perhitungan, Komitmen Afektif (X1) berpengaruh signifikan dengan arah positif terhadap Kepuasan Kerja (Y1). Hal ini terlihat dari koefisien jalur yang bertanda positif sebesar 0,467 dengan nilai CR sebesar 2,920 dan diperoleh probabilitas signifikansi sebesar 0,004 yang lebih kecil dari taraf signifikansi yang ditentukan sebesar 0,05. Dengan demikian Komitmen Afektif berpengaruh secara langsung pada Kepuasan Kerja sebesar 0,467 yang berarti setiap ada kenaikan Komitmen Afektif maka akan menaikkan Kepuasan Kerja sebesar 0,467. Hasil ini memberikan dukungan atas hipotesis Komitmen Afektif berpengaruh signifikan terhadap Kepuasan Kerja PTPN III di Sumatera Utara.

Hipotesis 2
Berdasarkan hasil perhitungan, Komitmen Kontinuan (X2) berpengaruh signifikan dengan arah positif terhadap Kepuasan Kerja (Y1). Hal ini terlihat dari koefisien jalur yang bertanda positif sebesar 0,272 dengan nilai CR sebesar 2,841 dan diperoleh probabilitas signifikansi sebesar 0,04 yang lebih kecil dari taraf signifikansi yang ditentukan sebesar 0,05. Dengan demikian Komitmen Kontinuan berpengaruh secara langsung pada Kepuasan Kerja sebesar 0,272 yang berarti setiap ada kenaikan Komitmen Kontinuan maka akan menaikkan Kepuasan Kerja sebesar 0,272. Hasil ini memberikan dukungan atas hipotesis Komitmen Kontinuan berpengaruh signifikan terhadap Kepuasan Kerja PTPN III di Sumatera Utara.

Hipotesis 3
Berdasarkan hasil perhitungan, Komitmen Normatif (X3) berpengaruh signifikan dengan arah positif terhadap Kepuasan Kerja (Y1). Hal ini terlihat dari koefisien jalur yang bertanda positif sebesar 0,130 dengan nilai CR sebesar 2,145 dan diperoleh probabilitas signifikansi sebesar 0,032 yang lebih kecil dari taraf signifikansi yang ditentukan sebesar 0,05. Dengan demikian Komitmen Normatif berpengaruh secara langsung pada Kepuasan Kerja sebesar 0,130 yang berarti setiap ada kenaikan Komitmen Normatif maka akan menaikkan Kepuasan Kerja sebesar 0,130. Hasil ini memberikan dukungan atas hipotesis Komitmen Normatif berpengaruh signifikan terhadap Kepuasan Kerja PTPN III di Sumatera Utara.

Hipotesis 4
Berdasarkan hasil perhitungan, Kepuasan Kerja (Y1) berpengaruh signifikan dengan arah positif terhadap Kinerja Karyawan (Y2). Hal ini terlihat dari koefisien jalur yang bertanda positif sebesar 0,715 dengan nilai CR sebesar 2,970 dan diperoleh probabilitas signifikansi sebesar 0,003 yang lebih kecil dari taraf signifikansi yang ditentukan sebesar 0,05. Dengan demikian Kepuasan Kerja berpengaruh secara langsung pada Kinerja Karyawan sebesar 0,715 yang berarti setiap ada kenaikan Kepuasan Kerja maka akan menaikkan Kinerja Karyawan sebesar 0,715. Hasil ini memberikan dukungan atas hipotesis Kepuasan Kerja berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Karyawan PTPN III di Sumater Utara.


sumber :
http://puslit2.petra.ac.id/ejournal/index.php/man/article/viewFile/17742/17663


Tugas ini diberikan oleh Pak Prihantoro

Senin, 24 Oktober 2011

LANJUTAN BAB I JURNAL ILMIAH PENGARUH KOMITMEN TERHADAP KINERJA KERJA KARYAWAN

BAB II


1. LANDASAN TEORI

Bansal, Irving dan Taylor (2004) mendefenisikan komitmen sebagai kekuatan yang mengikat seseorang pada suatu tindakan yang memiliki relevansi dengan satu atau lebih sasaran.

Sementara Robbins (2001) menyebutkan komitmen adalah tingkatan di mana seseorang mengidentifikasikan diri dengan organisasi dan tujuan-tujuannya dan berkeinginan untuk memelihara keanggotaannya dalam organisasi.

Armstrong (1991) menyatakan bahwa pengertian komitmen mempunyai ada 3 (tiga) area perasaan atau perilaku terkait dengan perusahaan tempat seseorang bekerja:
1. Kepercayaan, pada area ini seseorang melakukan penerimaan bahwa organisasi tempat bekerja atau tujuan-tujuan organisasi didalamnya merupakan sebuah nilai yang diyakini kebenarannya.
2. Keinginan untuk bekerja atau berusaha di dalam organisasi sebagai kontrak hidupnya. Pada konteks ini orang akan memberikan waktu, kesempatan dan kegiatan pribadinya untuk bekerja diorganisasi atau dikorbankan ke organisasi tanpa mengharapkan imbalan personal.
3. Keinginan untuk bertahan dan menjadi bagian dari organisasi.

Komitmen secara umum dapat didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana seorang karyawan memihak kepada organisasi tertentu dengan tujuan-tujuan dan keinginannya untuk mempertahankan keanggotaan dalam organisasi tersebut.

Kepuasan kerja adalah sikap individu terhadap pekerjaan yang mereka miliki. Ini hasil dari persepsi mereka tentang pekerjaan mereka, berdasarkan faktor-faktor dari pekerjaan lingkungan, seperti gaya pengawas, kebijakan dan prosedur, afiliasi kelompok kerja, kondisi kerja, dan manfaat golongan (Gibson et al, 1997:75).

Kepuasan kerja adalah derajat atau tingkatan dimana individu merasa positif atau negatif tentang pekerjaan mereka. Ini adalah tentang bagaimana seseorang dalam menanggapi tugasnya secara emosional, fisik dan kondisi sosial tempat kerja. (Schermerhorn et al., 1991:55).

Kepuasan kerja adalah bagian dari kepuasan hidup. Sifat seseorang di luar lingkungan pekerjaan dapat berpengaruh kepada perasaan seseorang dalam melakukan suatu pekerjaan. Demikian pula karena pekerjaan merupakan bagian penting dari kehidupan, kepuasan kerja mempengaruhi kehidupan umum kepuasan seseorang (Davis dan Newstrom 1997:110).

Dari beberapa definisi kepuasan kerja yang telah diuraikan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kepuasan kerja merupakan suatu efektivitas atau respons emosional terhadap berbagai aspek pekerjaan.


2. TINJAUAN RISET TERDAHULU

Greenhaus (1971) career salience adalah faktor yang signifikan dalam kehidupan seseorang, yang memotivasi karyawan untuk mencari pemenuhan didalam karir, dan untuk memilih karir yang sesuai dengan kompetensinya.

Steffy dan Jones (1988) juga menghasilkan komitmen normatif dipengaruhi oleh variabel extra-work dan komitmen organisasional hanya mempunyai pengaruh yang moderate.

Hasil penelitian Shore & Martin (1989) dan Cohen (1993b), dimana komitmen organisasional dan kepuasan kerja adalah variabel yang dapat dibedakan. Ketika bentuk komitmen organisasional disarankan sebagai prediktor terbaik bagi kinerja karyawan di luar situasi kerja, kepuasan kerja muncul menjadi prediktor terbaik bagi kinerja karuyawan di dalam suasana kerja.


3. PENGEMBANGAN HIPOTESIS

Berdasarkan tinjauan riset terdahulu, maka :

H1 : career salience adalah faktor yang signifikan dalam pemilihan karir
H2 : komitmen dipengaruhi oleh variabel extra-work
H3 : komitmen dan kepuasan kerja merupakan variabel yang tidak dapat dibedakan



PUSTAKA


http://puslit2.petra.ac.id/ejournal/index.php/man/article/viewFile/17742/17663

http://id.shvoong.com/business-management/management/2190790-pengertian-komitmen/

http://arahbalik.blogspot.com/2008/01/komitmen.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Komitmen_organisasi


Tugas ini diberikan oleh Bpk. Prihantoro

Jumat, 14 Oktober 2011

TUGAS SOFTSKILL TENTANG STUDI KASUS PERILAKU KONSUMEN (BAB I – III)
TUGAS KE : I
JUDUL : PERILAKU KONSUMEN DALAM MENGAMBIL KEPUTUSAN UNTUK MEMBELI SUATU PRODUK
NAMA : PRATIWI WULANDARI
NPM : 14209053
KELAS : 3 EA 11
BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Dewasa ini, tingkat konsumsi masyarakat terhadap suatu produk sering dipengaruhi oleh beberapa faktor, dari yang paling sederhana sampai yang paling signifikan.
Persaingan didalam dunia bisnispun semakin kecang, dengan memodifikasi kemasan, membedakan merk dengan jenis produk yang sama, pemberian harga yang lebih terjangkau dan berbagai macam cara agar dapat menarik konsumen. Akan tetapi, konsumen tidak akan langsung tergiur dengan kondisi tersebut, karena konsumen akan melakukan evaluasi terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan untuk membeli barang tersebut.
2. Landasan Teori
Perilaku konsumen merupakan suatu proses dimana seseorang atau kelompok orang mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi, dan membuang produk atau jasa setelah dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhannya. Perilaku konsumen terdiri dalam beberapa tahap yaitu tahap sebelum pembelian, pembelian, dan setelah pembelian.
Pada tahap sebelum pembelian, konsumen akan melakukan pencarian informasi yang terkait produk dan jasa yang dibutuhkan. Pada tahap pembelian, konsumen akan melakukan pembelian produk, dan pada tahap setelah pembelian, konsumen melakukan konsumsi (penggunaan produk), evaluasi kinerja produk, dan akhirnya membuang produk setelah digunakan.
Perilaku konsumen juga dapat didefinisikan sebagai salah satu cabang dari ilmu manajemen. Perilaku konsumen dapat dikaitkan dengan strategi pemasaran, di mana pemasaran harus mampu menyusun kriteria pembentukan segmen konsumen, kemudian melakukan pengelompokan dan menyusun informasi yang didapat dari konsumen tersebut. Kemudian, pemasar memilih salah satu segmen untuk dijadikan pasar sasaran. Dan setelah itu, pemasar menyusun dan mengimplementasikan strategi bauran pemasaran yang tepat untuk segmen tersebut.
Pemikiran yang benar tentang konsumen adalah perilaku konsumen dapat dimengerti melalui penelitian, bujukan dan pengaruh konsumen memiliki hasil yang menguntungkan karena konsumen adalah raja.
Pride & Ferrel (1995) mendefinisikan segmentasi pasar sebagai suatu proses pembagian pasar keseluruhan menjadi kelompok–kelompok pasar yang terdiri dari orang–orang yang secara relatif memiliki kebutuhan produk yang serupa.
Segmentasi pasar memiliki manfaat dan kelemahan. Manfaat dari segmentasi pasar adalah perusahaan akan dapat mendeteksi secara cepat dan tepat tentang kecenderungan perubahan yang tejadi didalam pasar, menemukan bagaimana cara yang paling tepat untuk mempromosikan produk dan bagaimana memenuhi permintaan pasar, serta dapat mengelola segala macam bentuk biaya agar dapat berguna seefektif dan seefisien mungkin.
Sedangkan kelemahan dari adanya segmentasi pasar adalah, ada kemungkinan terjadinya persaingan yang tidak sehat dan biaya yang digunakan untuk segala bentuk usaha akan semakin bertambah.
Tipe Pengambilan keputusan ( Decision making) merupakan suatu tindakan manajemen dalam pemilihan alternative untuk mencapai sasaran. Keputusan dibagi dalam 3 tipe :
Yang pertama, keputusan terprogram atau keputusan terstruktur, yaitu keputusan yang berulang dan rutin. Keputusan terstruktur dilakukan pada manjemen tingkat bawah. Contohnya, keputusan pemesanan barang, keputusan penagihan piutang, dan lain-lain.
Kedua, keputusan setengah terprogram atau setengah terstruktur yaitu keputusan yang sebagian dapat diprogram, sebagian berulang-ulang dan rutin dan sebagian tidak terstruktur. Keputusan ini bersifat rumit dan membutuhkan perhitungan serta analisis yang terperinci. Contohnya, keputusan membeli sistem komputer yang lebih canggih, keputusan alokasi dana promosi.
Ketiga, keputusan tidak terprogram atau tidak terstruktur, yaitu keputusan yang tidak terjadi berulang-ulang dan tidak selalu terjadi. Keputusan ini terjadi di manajemen tingkat atas. Informasi untuk pengambilan keputusan tidak terstruktur, tidak mudah untuk didapatkan, tidak mudah tersedia dan biasanya berasal dari lingkungan luar.






BAB II
PEMBAHASAN

Perilaku konsumen dalam proses mengambil keputusan untuk membeli produk baru dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu kebutuhan yang harus dipenuhi, informasi yang didapat guna mendapatkan solusi, fungsi barang, merek, harga barang tersebut, budaya, gaya hidup, dan cita rasa estetika.
Merek merupakan faktor yang berpengaruh dalam pengambilan keputusan pembelian yang dilakukan oleh konsumen, karena dengan adanya merek konsumen dapat mengetahui perbedaan mutu suatu produk yang dihasilkan masing-masing perusahaan dan mempermudah konsumen dalam memilih produk yang diinginkan.
Gaya hidup merupakan pola hidup yang menentukan bagaimana seseorang memilih untuk menggunakan waktu, uang dan energi dan merefleksikan nilai-nilai, rasa, dan kesukaan. Gaya hidup adalah bagaimana seseorang menjalankan apa yang menjadi konsep dirinya yang ditentukan oleh karakteristik individu yang terbangun dan terbentuk sejak lahir dan seiring dengan berlangsungnya interaksi sosial selama mereka menjalani siklus kehidupan.
Berbagai faktor dapat mempengaruhi gaya hidup seseorang diantaranya demografi, kepribadian, kelas sosial, daur hidup dalam rumah tangga. Kasali (1998) menyampaikan beberapa perubahan demografi Indonesia di masa depan, yaitu penduduk akan lebih terkonsentrasi di perkotaan, usia akan semakin tua, melemahnya pertumbuhan penduduk, berkurangnya orang muda, jumlah anggota keluarga berkurang, pria akan lebih banyak, semakin banyak wanita yang bekerja, penghasilan keluarga meningkat, orang kaya bertambah banyak, dan pulau Jawa tetap terpadat.
Pemasar harus dapat mengidentifikasi peran seseorang di dalam kelompoknya dalam pengambilan keputusan, dan harus menekankan pada si pengambil keputusan. Penyesuaian dilakukan hanya untuk sekadar menyesuaikan diri agar diterima oleh kelompok atau penyesuaian yang mengubah kepercayaan. Orang butuh untuk menilai opini dan kemampuan mereka dengan membandingkannya dengan opini dan kemampuan orang lain. Dalam polarisasi kelompok, perbedaan pandangan antara kelompok dengan individu, dan kelompok dapat berubah pandangannya dikarenakan informasi dan budaya yang ada.
Saat ini makin banyak konsumen yang dapat menerima barang dan gaya hidup yang digunakan oleh orang yang berada dalam belahan dunia yang lain. Mereka mempunyai peluang untuk mengadopsi produk dan praktik yang berbeda. Tingkat penerimaan seseorang terhadap budaya yang berbeda juga tergantung dari inisiatif konsumen itu sendiri, pengalaman mereka mempengaruhi sikap mereka dalam menerima produk yang berasal dari negara lain. Faktor budaya dapat didefinisikan sebagai dorongan untuk mengenali persamaan atau perbedaan apa yang terkandung antara konsumen.
Proses pengambilan keputusan dapat dilakukan dan dimulai dengan tahap mendefinisikan lebih dulu kebutuhan barang apa yang paling mendesak dan harus dipenuhi, kemudian mencari alternatif solusi yang tepat, mencari informasi yang lebih rinci yang terkait dengan alternatif solusi pilihan, dan selanjutnya kita dapat mengambil keputusan.

Berikut bagan proses pengambilan keputusan :







Konsumen dapat memperoleh informasi dari berbagai sumber. Sumber itu meliputi sumber pribadi (keluarga, teman, tetangga, rekan kerja), sumber komersial (iklan, penjual, pengecer, bungkus, situs Web, dan lain-lain), sumber publik (media massa, organisasi pemberi peringkat), dan sumber berdasarkan pengalaman (memegang, meneliti, menggunakan produk). Pengaruh relatif di antara sumber informasi itu berbeda-beda di antara berbagai produk dan pembeli.
Konsumen biasanya menerima sebagian besar informasi dari sumber komersial, yang dikendalikan oleh pemasar. Namun demikian, sumber yang paling efektif cenderung yang bersifat pribadi. Sumber komersial biasanya memberikan informasi kepada pembeli, sedangkan sumber pribadi memberikan legitimasi atau mengevaluasi produk bagi pembeli.
Kita telah mempejari cara konsumen menghasilkan informasi yang menghasilkan sekumpulan merek-merek yang akhirnya dipilih. Bagaimana cara konsumen memilih dari alternatif merek yang ada? Pemasar perlu memahami proses pengevaluasian alternatif-yakni, cara konsumen memproses informasi yang menghasilkan berbagai pilihan merek. Sayangnya, konsumen tidak melakukan satu evaluasi secara tunggal dan sederhana, tetapi konsumen mungkin melakukan beberapa proses avaluasi.
Sikap konsumen terhadap sejumlah merek tertentu terbentuk melalui beberapa prosedur evaluasi. Cara konsumen memulai usaha mengevaluasi alternatif pembelian tergantung pada konsumen individual dan situasi pembelian tertentu. Dalam beberapa kasus, konsumen menggunakan kalkulasi yang cermat dan pikiran yang logis.
Di tahap pengevaluasian, konsumen menyusun peringkat merek dan membentuk kecenderuangan (niat) pembelian. Secara umum, keputusan pembelian konsumen akan membeli merek yang paling disukai, tetapi ada dua faktor yang muncul diantara kecenderungan pembelian dan keputusan pembelian.













BAB III
PENUTUP

1. Kesimpulan
Dari keterangan diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa konsumen dalam perilakunya mengambil keputusan untuk membeli suatu produk dipengaruhi oleh adanya faktor eksternal dan intenal.
Dan keputusan membeli barang dipertimbangkan berdasarkan faktor-faktor yang memicu konsumen tersebut untuk memenuhinya.

2. Saran
Konsumen dalam memilih barang sebaiknya tidak memilih sutu produk dengan terburu-buru. Cari alternatif-alternatif yang lebih baik untuk digunakan.





DAFTAR PUSTAKA

http://library.usu.ac.id/download/fe/manajemen-hamidah.pdf
http://www.scribd.com/doc/5624722/4-perilaku-konsumen-individu-dan-institusional-2007-presentasi-kel-3
http://edwardferdinandonly.blogspot.com/2010/03/tugas-perilaku-konsumen.html
http://pustaka.ut.ac.id/website/index.php?option=com_content&view=article&id=93:ekma4567-perilaku-konsumen&catid=28:fekon&Itemid=73
http://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/07/segmentasi-pasar-definisi-manfaat-dan.html
http://digilib.uns.ac.id/upload/dokumen/69602406200905321.pdf
http://www.smakristencilacap.com/arti-pemasaran-dan-manajemen-pemasaran/proses-pengambilan-keputusan-pembelian-konsumen/